ReligiJanuary 18, 2007 9:26 am

Aku tak pandai bersyukur,
mulutku kaku, bukan untuk tersenyum,
mataku merah, bukan sebab menangis,
kakiku ngilu, bukan sebab berjalan,
tanganku keram, bukan karna memberi.

Aku tak pandai bersyukur,
benar-benar tak pandai,
semoga kalian tidak.

rizapn - sepuluh maret duaribu empat

ReligiJanuary 6, 2006 7:01 am

Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
sendiri, di tempat yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan…

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan …

Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma’af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri…

Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja…

Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk bersimpuh di depan ayah bundaku,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka …

Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma’afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terdefinisikan …

rizapn, april duaribu tiga

ReligiDecember 15, 2005 12:44 pm

Kemarin aku di bandung,
sholat jumat di sebuah masjid kampung,
semua berpeci, semua bersarung,
sedang aku berkaos dan hanya celana.

Pikirku langsung melayang,
terbayang langgar keluarga di depan rumah,
dengan kentongan kecil dan toa seadanya,
tanpa kran, tanpa sajadah.

Kami-kami kecil berebut wudhu,
melilit sarung, memiringkan peci,
lantas dengan riang mengumandangkan,
puji-puji ikhlas menjelang sembahyang,
hingga satu dari kami berlari,
memukul keras membunyikan kentongan,
dan satu lainnya melantunkan qomat,
tanda kakek sudah datang,
imam tetap pada hampir setiap sholat.

Jakarta telah membunuh sebagian diriku,
dan aku rindu sekali …

rizapn - empat juli duaribu tiga

Religi 12:42 pm

Membelah laut pun Aku sanggup,
apatah lagi sekedar membalik hidupmu !
Mendekatlah kepada-Ku,
sehasta setiap saat,
kuberi engkau segenggam ridho-Ku …

Mendidih kelenjar mataku,
tertunduk, menetes …

riza - enam maret duaributiga

Religi 11:47 am

Sebab Tuhan Pasti Ada

Dan aku pun lemas terduduk,
kesombongan itu telah memakanku,
menggigit-gigit pinggir jiwaku,
bergerigi, tajam-tajam kecil menyakitkan,
hampir tak tersisa bagian rata,
semua terjelajahi.

Aku toh hanya bisa menangis,
kesombongan itu telah menawanku,
tak melepasku barang sedetik,
ke kiri dia ikut, ke kanan dia serta,
ke mana pun hendak kulari,
dia tak bergeming,
dia begitu perkasa.

Hening begitu lama,
dan aku begitu hina.

KELUAR KAU ! PERGI YANG JAUH !
Entah kekuatan mana yang tiba-tiba datang,
merangkulku begitu erat,
hampir meniadakan kehinaanku,
dan jiwaku begitu tentram.

Aku mampu bersujud,
dalam do’a kusebut-sebut:
“Tuhan, Engkau Yang Maha Tahu,
bahkan ketika hamba tak mampu berkata-kata…”

Kembalilah,
sebab kembali bukanlah kalah,
sebab kembali bukanlah nista,
sebab kembalimu adalah mendekat.
Kembalilah,
sebab Tuhan pasti ada.

rizapn - jumat, enam juni duaribu tiga